Health & Beauty · Skin Care

Gerilya Melawan Jerawat di Erha (Jilid 1)

Holaaaaa. Kali ini mau melanjutkan kisah kasih antara jidatku dan koloni jerawat seperti yang udah pernah diceritakan di sini.

Setelah menyerah dengan segala macam obat jerawat dari apotek, dengan langkah gontai saya datang ke Erha Dermatology Center yang terletak di jalan Cimanuk, Bandung. Jujur nih ya, saya ini paling ogah pergi ke 2 tempat: dokter dan salon. Ke dokter kalau sakit aja, ke salon juga cuma potong rambut doang. Aneh? Emang. Gue mah gitu orangnya *LoL*. Nah tapi berhubung jerawat makin parah disertai rasa gatal dan perih, mau gak mau akhirnya berobat juga.

Ups, ternyata kartu Erha saya udah kadaluwarsa dan harus diganti kartu yang baru, karena kunjungan saya terakhir ke Erha itu 5 tahun lalu (sebelum nikah. Biasa, maunya pas nikah kinclong, udahnya kucel lagi juga gak apa-apa toh udah laku ini #eaaa). Untuk pilihan dokter, sebenarnya gak neko-neko karena saya yakin semua dokter di Erha memang mumpuni. Hanya saja saya perlu dokter yang ada jadwal praktek setiap hari di Erha dan harus pagi hari, kalau bisa yang perempuan. Kenapa? Pertama, saya gak bisa memastikan hari apa saya bisa konsul, tergantung padat tidaknya pekerjaan/kegiatan. Kedua, kenapa harus pagi, karena saya malas bepergian siang-siang. Ketiga, kenapa dokter wanita, karena kalau sama dokter laki dan tahunya dokternya lebih mulus dari ekeu, minder lah! Masak kalah sama laki. Kalau dokter cewek mulus sih wajar ya. *ini alasan yang jelas cuma yang pertama kayaknya, lainnya blasssss*

Akhirnya saya memilih untuk konsultasi dengan Dr. Deis, M.Kes., Sp.KK. Curhatlah saya dari A sampai Z tentang sejarah ekspansi bisnis si jerawat dan perkembangannya di jidat saya sampai bisa buka cabang di mana-mana yang mengakibatkan kondisi wajah mencapai titik terendah seumur hidup saya: kusam, merah-merah, gatal, perih, komedo overload, de-el-el yang amit-amit lah.

Setelah lelah mendongeng dengan berapi-api, giliran Bu Dok yang memberi wejangan. Kata beliau, ada beberapa kemungkinan penyebab jerawat.

Pertama, makanan. Makanan pedas, kacang, cokelat, susu dan turunannya bisa menjadi faktor pemicu jerawat. Saya bilang bahwa saya dari dulu itu jurig sambel – gak bisa makan kalau gak pedas, suka makan cokelat, jarang makan kacang dan susu. Tapi tidak pernah berjerawat separah ini.

Kedua, produk/krim abal-abal. Karena komposisi krim abal-abal hanya Tuhan yang tahu (bahkan pembuatnya juga gak tahu, yakin), maka bisa sangat berbahaya pada kulit. Tapi Alhamdulillah seumur hidup belum pernah coba krim abal-abal. Pernah sih ketipu masker Naturgo yang ternyata palsu, tapi cuma 1 kali. Itupun udah 2 tahun lalu.

Ketiga, kebersihan. Udah jadi rahasia umum ya bahwa sesungguhnya tangan manusia itu punya mode auto-pilot. Apalagi saat ada jerawat nongol di wajah, tanpa menunggu komando, jari jemari pasti langsung asyik pencat-pencet. Padahal belum cuci tangan tuh. Yah, bisa jadi ini juga yang bikin jerawat saya parah meradang. Bahkan saya gak pernah sadar kapan jari saya ngutak ngatik jerawat, tiba-tiba teman saya histeris lihat darah mengalir di jidat haha. Tapi saya masih bingung sebab awal kenapa saya tiba-tiba jerawatan — yang akhirnya saya pencet dan berujung meradang– ?

Nah kalau memang masih bingung, dokter bilang mungkin saja faktor keempat, yaitu hormonal. Menstruasi, stres, dan lain-lain bisa banget jadi pemicu jerawat. Hmm, dipikir-pikir memang saat jerawat mulai bermunculan adalah waktu di mana saya sedang stress-stressnya sih. Stress mikirin nasib kondisi perekonomian dunia sejak Donald Trump jadi presiden Amrik lah, stress mikirin Freeport lah, stress mikirin skandal artis lah, gitu-gitu deh pokoknya. Biasa, orang stress mah segala hal juga di-stress-in XD

Setelah selesai sesi curhat, Bu Dok mempersilakan saya berbaring di kasur pasien dengan posisi wajah menghadap ke lampu. Saat observasi itu, dari ekspresi Bu Dok saya bisa membayangkan pemandangan horor yang beliau lihat di wajah saya. Bu Dok nampak mengkhawatirkan jerawat yang beranak pinak. Katanya, jerawat saya ini memang sudah meradang. Dikhawatirkan infeksi juga kalau dibiarkan. Tidak akan mempan hanya dengan obat luar, harus pakai antibiotik oral. Berhubung saya tidak punya alergi obat, tidak sedang hamil maupun promil (walaupun ingin nambah anak 1 sih, cewek. Amin-kan hai pembacaaaa), maka saya oke saja. Daripada gatal perih cyiiiin.

Akhirnya saya diberi resep obat dan krim sbb:

  1. Tamcocin 500 mg
    Antibiotik ini diminum 2x sehari setelah makan, dan harus habis. Dikasih resep 30 kapsul untuk konsumsi 2 minggu. Setelah obat habis, dokter menyarankan saya untuk konsultasi kembali, untuk kemudian ditentukan tindakan berikutnya.
  2. Acne Cleanser Scrub Beta Plus (ACSBP)
    Sabun cuci muka dengan scrub. Warnanya hijau, aromanya enak khas Erha. Tidak banyak busa, tapi setelah mencuci muka langsung terasa bersih. Tapi hati-hati, kalau masuk ke mata lumanyun perih. Eh, tapi sabun cuci muka mana sih yang gak pedih di mata. Sampo bayi sih iya….mungkin.
  3. Acne Moisturizing Gel 3 (AMG3)
    Dipakai pagi hari tipis-tipis setelah mencuci muka dengan ACSBP. Bentuknya gel berwarna bening. Beraroma harum tapi gak nyegrak. Saya paling suka sama gel ini, cepat menyerap dan bikin kulit lembap seketika tapi gak berminyak.
  4. Acne Foundation 4 (AF4)
    Sunscreen ini dipakai tipis-tipis setelah AMG3 meresap ke kulit. Hati-hati saat membuka jar-nya ya, karena mudah tumpah.
  5. Acne Face Treatment for Sensitive Skin (AFTSS)
    Krim malam yang dipakai setelah mencuci wajah menggunakan ACSBP. Warnanya putih. Beraroma tapi ringan. Cepat menyerap juga.
  6. Acne Gel
    Krim totol jerawat ini dipakai malam hari setelah AFTSS meresap di kulit. Dipakainya hanya di bagian yang berjerawat saja.

Dan gak lupa sebelum keluar ruang konsultasi, seperti biasa ada sesi photoshoot dulu sama mbak suster. Senyum dan say cheeeeeese *udah heboh padahal yang difoto jerawatnya*.

Nah sekarang mari kita bahas hal yang paling krusial yaitu biaya konsultasi dan harga obat dari Erha. Saya jabarkan ya, siapa tahu ada yang membutuhkan info, soalnya sebelum memutuskan ke Erha saya juga sempat galau cari info sana-sini karena takut over budget. Oh ya, printilan obat dan krim-krim di resep dokter sebenarnya gak harus ditebus semua, bisa pilah pilih. Tapi karena kemarin saya ingin segera sembuh, jadi plek ikut apa kata dokter aja. Toh yang dokter kan beliau, bukan saya, pasti lebih paham lah ya.

Biaya Konsultasi I dan Obat (per Mei 2017):

  1. Konsultasi dokter Rp.175.000,-
  2. Tamcocin 500 mg (30 buah) Rp.210.000,-
  3. ACSBP (60 gr) Rp.84.500,-
  4. AMG 3 (15 gr) Rp.70.000,-
  5. AF 4 (15 gr) Rp.88.000,-
  6. AFTSS (15 gr) Rp.71.500,-
  7. Acne Gel (15 gr) Rp.65.000,-
    Total biaya: Rp.764.000,-

Info perkembangan kondisi wajah setelah konsul ke Erha pada judul berikutnya yaaa (Catatan: kalau gak malas hihi). Yang pasti sih udah jauh lebih mendingan dari waktu sebelum ke Erha.

Advertisements

One thought on “Gerilya Melawan Jerawat di Erha (Jilid 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s