Book, Music & Movie · Movie

[Review] Lights Out (+Spoiler)

WARNING: Blog post kali ini berisi review sekaligus spoiler lengkap film Lights Out. Kalau maksa lanjut baca, tanggung sendiri akibatnya hehe.

Film ini release di Indonesia bulan September 2016, tapi saya baru bisa nonton kemarin. Itupun bukan di bioskop tapi hasil ngopi dari temen hehe. Sebenarnya bulan lalu sempat nonton sebentar tapi baru di awal aja udah bikin deg-deg ser. Akhirnya demi kemaslahatan bersama, nontonnya ditunda dulu sampai terkumpul keberanian. Jadi, kemarin pas nonton sampe beres tuh udah berani? Gak juga, hahaha. Asli kakaak, dedek masih takut, cuma ya penasaran aja sih.

Jadi, menurut saya film ini sadisnya kebangetan. Thriller gitu? Bukan, bukan. Tapi dia memang membangkitkan bulu kuduk bahkan dari menit awal film dimulai. Gak percaya? Silakan dicoba 😀

***

Mengambil setting malam hari di sebuah perkantoran yang (mungkin) bergerak di bidang fashion design (karena banyak manekin dan baju), Paul dan rekannya Esther bersiap-siap hendak pulang. Berhubung Paul sedang menelepon seseorang – mungkin psikiater – terkait istrinya (Sophie), yang berdasarkan laporan anaknya (Martin) kembali berbicara sendiri di rumah, maka Paul menyuruh Esther untuk mematikan semua lampu di ruangan lainnya. Namun ketika Esther mematikan lampu-lampu, tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan yang muncul dan kemudian hilang saat lampu kembali dinyalakan. Esther pun bergegas memberitahu Paul akan kejadian tersebut, yang dianggap angin lalu oleh Paul, sebelum akhirnya Esther segera pulang karena takut.

lightsout_diana

Paul yang sudah selesai berkemas, berjalan di lorong menuju pintu keluar. Namun tiba-tiba ia melihat sosok yang diceritakan Esther di lorong tersebut. Menyadari bahwa sosok tersebut hanya bisa berada di tempat yang tidak terkena cahaya, ia pun lari menuju ruangannya dan menyalakan lampu. Namun tiba-tiba listrik padam, dan Paul pun tewas bersimbah darah.

Hari berganti, Martin yang tengah tidur terbangun oleh suara ibunya. Benar dugaannya, ia mendapati Sophie seperti sedang mengobrol dengan seseorang di ruangan yang gelap. Merasa tidak nyaman, Martin pamit untuk kembali ke kamarnya. Namun sebelum membalikkan badan, ia melihat sosok bayangan mengerikan berada di dekat Sophie.

Teror setiap malam membuat Martin sering ketiduran di kelas pada siang harinya. Petugas dinas sosial di sekolah Martin menelepon Sophie untuk menjemput dan membicarakan hal tersebut, namun tidak ada yang menjawab. Oleh karenanya petugas tersebut menghubungi kakak tiri Martin, Rebecca, untuk menjemputnya. Rebecca yang urakan datang menjemput Martin di sekolah untuk kemudian mengantarnya pulang. Tapi melihat kondisi Sophie yang kacau, ia memutuskan untuk membawa Martin pulang ke tempat tinggalnya.

Siapa sangka, ternyata sosok bayangan tersebut menampakkan diri di kediaman Rebbecca. Beruntung Rebecca masih sempat menyalakan lampu tepat saat sosok tersebut hendak menyerangnya. Paginya, petugas dinas sosial datang menjemput Martin. Selepas petugas dinas sosial pergi, Rebecca menemukan gambar di lantai dengan tulisan “Diana”. Hal tersebut mengingatkan akan teror masa kecilnya.

lights_out_movie-1-320x320

Berniat mencari tahu tentang Diana, Rebecca menyelinap ke rumah ibunya ditemani teman prianya, Bret. Rebecca menemukan berkas tentang Diana yang dikumpulkan oleh Paul (ternyata Paul sudah lebih dulu menyelidiki hubungan Sophie dengan Diana), di mana diketahui bahwa Diana bertemu Sophie saat dirawat di Rumah Sakit Jiwa Mulberry Hills. Diana mengalami gangguan jiwa sekaligus mengidap penyakit yang membuat kulitnya sensitif terhadap cahaya. Dari rekaman medis yang didengarnya, Diana beberapa kali berusaha menyakiti Sophie dengan alasan kondisi Sophie yang semakin membaik, sebelum akhirnya Diana tewas karena kesalahan proses pengobatan.

Rebecca masih mencari tahu tentang Diana, ketika tiba-tiba pintu kamar perlahan menutup dengan sendirinya dan terdengar suara Diana diikuti dengan ditariknya Rebecca oleh Diana hingga melayang. Beruntung Bret membuka pintu dari luar sehingga cahaya masuk dan Rebecca pun selamat. Mereka berdua bergegas pergi dengan membawa berkas-berkas yang Rebecca temukan.

Tak lama setelah Rebecca dan Bret pergi, Sophie dan Martin pulang. Sophie berjanji bahwa malam ini mereka akan menghabiskan waktu bertiga untuk menonton film. Martin meminta agar hanya ia dan Sophie saja yang akan bersama, namun Sophie tidak bisa berjanji. Malamnya saat sedang menonton, Sophie tiba-tiba mematikan lampu dan bercerita tentang Diana walaupun Martin memohonnya untuk berhenti. Seiring dengan berjalannya cerita Sophie, sosok Diana muncul. Martin yang ketakutan berusaha menyalakan lampu, dan kemudian kabur ke tempat Rebecca.

Rebecca menceritakan semua tentang Diana kepada Martin berdasarkan berkas yang ia temukan. Bahwa Diana bukan sekedar pasien sakit jiwa dengan penyakit kulit yang membuatnya sensitif terhadap cahaya, namun juga memiliki kemampuan mengendalikan pikiran orang lain, dan berhasil mempengaruhi Sophie hingga meyakini bahwa Diana adalah temannya. Rebecca masih belum mengerti mengapa Diana yang sudah meninggal masih dapat mengganggu keluarganya, namun ia yakin bahwa satu-satunya yang menghubungkan Diana dengan dunia ini adalah ibunya. Jika ibunya bisa disembuhkan, maka Diana akan menghilang.

Tiba-tiba pintu diketuk, Rebecca pun bangkit untuk membuka pintu. Namun tidak ada siapa-siapa di sana. Merasa ada yang tidak beres, dia pun memeriksa setiap ruangan. Sampai di kamar, tiba-tiba Martin ditarik ke bawah tempat tidur. Beruntung Rebecca berhasil menariknya kembali.

lo-fp-036

Setelah kejadian di kediaman Rebecca, mereka bertiga – Rebecca, Martin dan Bret – mendatangi rumah Sophie dan memaksanya untuk menceritakan tentang Diana. Rebecca menunjukkan foto Diana bersama Sophie dan memberitahu Sophie bahwa Diana sudah meninggal, namun Sophie tidak percaya. Melihat situasi yang bisa berbahaya, Rebecca mengajak Martin untuk kembali ke kediamannya. Namun Martin menolak dengan alasan ibunya membutuhkannya, dan lagipula berada di mana pun sekarang sama-sama tidak aman. Akhirnya malam itu Rebecca dan Bret memutuskan untuk bermalam di rumah Sophie.

Rebecca mengetuk pintu kamar ibunya untuk memberitahu bahwa mereka akan menginap malam itu. Terjadi sedikit obrolan ibu dan anak sebelum akhirnya Sophie memeluk Rebecca sambil diam-diam menyerahkan selembar kertas bertuliskan “Ibu butuh bantuan”, dan kembali menutup pintu kamarnya. Rebecca mencari obat untuk ibunya, namun tidak menemukannya. Akhirnya ia kembali ke kamar Martin untuk tidur. Namun tiba-tiba seluruh lampu di rumah padam. Rebbecca bergegas menyalakan senter dan mencari Bret, yang ternyata sedang berada di luar memeriksa listrik di luar sekitaran rumah yang ternyata juga padam.

Martin terbangun dan terkejut menyadari bahwa lampu padam dan Rebecca tidak ada di dekatnya. Berbekal sebuah lilin, Martin mencari Rebecca. Tiba-tiba muncul sosok Diana yang kemudian mengejar Martin. Berhasil melepaskan diri dari Diana, Martin menyusul Rebecca yang sedang berusaha menyalakan gardu listrik rumah tersebut di ruangan bawah tanah. Tiba-tiba Rebecca menyadari bahwa ini adalah sebuah perangkap. Seketika itu juga pintu menuju bawah tanah ditutup oleh sosok Diana.

Bret yang sudah kembali ke dalam rumah berusaha mengeluarkan Rebecca dan Martin. Belum juga berhasil membuka pintu, sosok Diana menyerangnya. Bret yang ketakutan berhasil melarikan diri dari rumah itu.

Menyadari bahwa Diana berusaha menyakiti anak-anaknya, Sophie memperingatkan Diana untuk tidak melibatkan anak-anaknya, dan untuk tidak mengancamnya karena keberadaan Diana membutuhkan Sophie. Sophie berusaha meminum obatnya, tapi Diana melempar Sophie hingga pingsan. Sementara itu, Rebecca dan Martin yang masih terkurung di ruang bawah tanah berusaha mencari sumber cahaya dengan membakar kertas-kertas yang ada di perapian. Martin menemukan lampu ultraviolet. Dengan lampu itu kemudian Rebecca mulai memeriksa sekeliling. Ia menemukan tembok penuh coretan-coretan ketidaksukaan Diana akan orang-orang yang berusaha memisahkan dirinya dengan Sophie dan lain-lain. Tiba-tiba Diana muncul. Ternyata dengan menggunakan lampu ultraviolet, mereka dapat melihat keberadaan Diana dalam gelap.

rjphwi5ogw5gb6kczuvk

Bret kembali dengan membawa serta 2 orang polisi. Polisi tersebut memeriksa isi rumah dan mendengar teriakan minta tolong dari Rebecca dan Martin. Rebecca dan Martin berhasil dikeluarkan dari ruang bawah tanah, namun para polisi diserang oleh Diana. Bret muncul di pintu, dan Rebecca menyuruh Bret membawa Martin menjauh sementara ia akan menjemput Sophie.

Berbekal senter milik polisi dan lampu ultraviolet, Rebecca mencari Sophie. Diana menyerang, dan Rebecca kehilangan senternya. Saat Rebecca terpojok, muncul Sophie dengan membawa pistol. Sekali ia menembak ke arah Diana, namun Diana dengan mengejek mengatakan itu tidak akan menyakitinya. Akhirnya Sophie mengarahkan pistol ke kepalanya dan menembak dirinya sendiri sebelum Diana sempat mencegahnya. Sosok Diana pun hancur seiring dengan terjatuhnya tubuh Sophie ke lantai.

***

Menurut saya film ini asik, kontinuitas horror-nya terjaga *halah*. Gak seperti kebanyakan film horror yang seramnya hanya saat setting-nya malam hari, film ini mencekam nyaris di setiap menitnya, baik siang apalagi malam. Ceritanya juga mudah dicerna, gak perlu mikir. Paling males kan lagi tegang-tegangnya nonton masih harus mikir ‘eh ini kenapa? itu kenapa? maksudnya gimana sih? hubungannya apa sama yang itu?’. Dan film ini menurut saya “masuk akal” dalam artian gak maksa di-horror-horror-in.

Walaupun ada beberapa hal yang agak aneh, misalnya, Diana kan udah mati, kenapa masih sensitif sama cahaya? Keanehan berikutnya, kenapa Diana bisa mematikan lampu nyala sedangkan dia tidak bisa terkena cahaya? Kalau memang bisa, kenapa gak dari awal semua lampu Diana matikan saja biar doi bebas berkeliaran? Dan lain sebagainya. Tapi sifat kritis gue terhadap film horror dibungkam dengan jalan ceritanya yang mengguncang nyali. Hehe.

Intinya, saya jauh lebih suka film ini daripada horror legendaris Conjuring walaupun sutradaranya sama. Persamaannya ada 1 sih, yaitu ending-nya se-simple itu haha.

Ps. All  pics taken from google.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s